Terwujudnya Kabupaten Bengkalis Sebagai Model Negeri Maju dan Makmur di Indonesia
me

SIMON LUMBAN GAOL

Anggota

Data Personal


Tempat/Tgl Lahir :
P.Brandom, 23-08-1994
Agama :
KRISTEN KATHOLIK
Jenis Kelamin :
L
Status Perkawinan :
KAWIN

Keluarga


Nama Istri/Suami :
Sintauli Veronica Manik
Jumlah Anak :
4 Anak

Fraksi & Daerah Pemilihan


Fraksi :
Fraksi PDI-P
Daerah Pemilihan :
BATHIN SOLAPAN

Posisi di Komisi


Nama Komisi :
Komisi III
Jabatan :
Wakil Ketua

Posisi di Badan Kelengkapan


Nama Badan :
Badan Musyawarah (Anggota)

Jabatan di Badan Publik


Jabatan :

Jabatan di Komisi Publik


Jabatan :

Riwayat Pendidikan


1. SD Bukit Mengkirai Sumut (1987)
2. SMP Swasta Yayasan Wijasarma Langkat Indah, Sumut (1990)
3. SMA Swasta Wijasarma Langkat Indah, Sumut 1993 

Riwayat Pekerjaan

1. PT Andipa (1995) 
2. PT Sikampak (1998)
3. Anggota DPRD Bengkalis (2014-2019)
4. 
Anggota DPRD Bengkalis (2019-2024)

Riwayat Organisasi

1. Sekretaris Serikat Pekerja (2002)
2. Ketua PUK FSPTI-SPSI (2005-2014)
3. Ketua Rating PDIP Tahun 2006-2011 

Biografi

Nama Simon Lumbangaol sudah tak asing bagi warga Duri XIII Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Selain dikenal sebagai petani sawit, dia juga merupakan ketua adat Batak di desa tersebut. Posisi sebagai ketua adat membuat, Simon ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah dalam pergaulan oleh masyarakat Batak di Duri XIII. Walau demikian hal itu tidak mengubah sosoknya yang bersahaja itu. Baginya, jabatan adalah amanah. Kematangan berpikir ini merupakan hasil dari pengalaman hidup yang dijalaninya baik semasa di kampong maupun diperantauan. Tamat SMA di Langkat, Sumatera Utara tahun 1993, dia mengadu untung ke Medan dengan bekerja di bengkel las selama 1 tahun.

Sebagaimana kebanyakan anak muda yang selalu ingin berkembang, anak keempat dari enam bersaudara inipun demikian. Bagi anak pasangan Dominikus Lumban Gaol- Leria Br Sihombing Simon ini, bekerja sebagai tukang las dirasa belumlah cukup. Apalagi saat menuntut ilmu di bangku SMA, Simon termotivasi oleh perkataan Calvin Sinurat, guru PMP-nya. “Dari pada kamu melamar pekerjaan ke perusahaan yang besar, lebih baik kamu membuka pekerjaan sekecil apapun,“ kata Simon mengutip perkataan gurunya itu. Niat membuka pekerjaan tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu ilmu dan modal. Tahun 1994, Simon mencoba mencari kehidupan yang lebih baik dari sekedar tukang las. Ia kemudian merantau ke Pekanbaru, di Kota Bertuah itu Simon tinggal di Labuh Baru.

Berbekal ijazah SMA dan ilmu di bengkel las, Simon kemudian diterima bekerja di PT Andipo perusahaan yang bergerak di sektor eksplorasi minyak (kontraktor Caltex). Kecerdasan dan wataknya yang keras menjadi pertimbangan pihak perusahaan dengan mengangkat Simon sebagai mandor sehingga kemudian ia menetap di Duri XIII. Dari PT Andipo, pada tahun 1998 Simon kemudian pindah kerja ke PT Sikampak, masih perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan (kontraktor Caltex). Saat itu, Simon sudah berumah tangga dengan mempersunting gadis pujaanya Sintauli Veronica A Manik. Di perusahaan ini dia kembali mendapat jabatan bagus, yakni sebagai koordinator. Lazimnya perusahaan mencari minyak, kontrak kerjanya hanya hitungan bulan, bukan tahunan seperti perusahaan-perusahaan lainnya. Situasi ini membuat lelaki kelahiran Desa Paya Bengkuang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara ini memutar otak untuk masa depan keluarganya yang lebih baik. Dia kemudian membeli sebidang lahan seluas 2 hektar di Duri XIII yang kemudian ditanaminya kelapa sawit. Ternyata jalan hidup sebagai petani ini membuat kehidupannya lebih tenang. Namun demikian, kata-kata sang guru masih tengiang jelas di telinganya. Kata-kata itu bagi Simon bukan beban, tetapi sebaliknya motivasi untuk membuka pekerjaan bagi orang lain.

Bermodalkan jiwa berorganisasi dan semangat kerja yang bergelora, ayah dari Leo Batistuta Lumban Gaol, Evandro Batis Tirta Lumban Gaol, Sariaman Defar Lumbangaol dan Taripar Mezar Lumban Gaol ini masuk organisasi buruh pada tahun 2005. Masuk Sistem Simon bergabung dengan Serikat Pekerja Transport Indonesia (SPTI) Mandau-Pinggir. Di organisasi buruh ini, pria kelahiran 1974 ini menjabat sebagai Sekjen Dewan Pimpinan Cabang Mandau-Pinggir. Masuk ke organisasi buruh semakin membuat cakrawala berpikir Simon semakin matang dan kritis. Jiwanya mulai berontak melihat kesenjangan penyaluran dana bantuan sosial antara masyarakat kota dengan masyarakat pelosok atau dusun. Semakin hari pertanyaan di dadanya semakin membuncah. Ini membuat seorang Simon terpanggil dan ingin mencari titik simpul masalahnya.

Untuk mengetahui itu, ia harus masuk ke sistem sebagai mitra pemerintah. Ia kemudian bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan jabatan Ketua Ranting di Desa Kesumbo Ampai pada tahun 2007. Enam tahun kemudian, Simon naik dari ketua ranting menjadi pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Bengkalis. Ia membidangi Departemen Bidang Organisasi di partai berlambang banteng moncong putih itu. Rupanya, selain petani dan organisasi buruh, di politik Simon juga selalu dipayungi dewi furtuna. Pemilu 2014, ia mencoba keberuntungan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari daerah Pemilihan Mandau B. Ternyata kerja keras dan doa Simon dikabulkan tuhan. Dengan mengantongi sebanyak 1.997 suara, ia pun melenggang ke gedung dewan di Jalan Antara, Bengkalis. Saat ini, Simon tidak hanya dikenal masyarakat sebagai petani, ketua adat dan buruh, tetapi juga anggota DPRD Bengkalis.

Dengan masuk ke sistem, tentu besar harapan masyarakat khususnya masyarakat di pedusunan untuk mendapatkan perhatian pembangunan dari pemerintah. “Sekarang Bansos tak ada. Tapi, saya tetap membantu masyarakat melalui dana reses. Jika tak bisa memberi seribu, lima ratus tetap saya kasih,“ ujarnya. Di mata Simon, potensi ekonomi masyarakat di pedesaan Kabupaten Bengkalis sangat tinggi. Hanya saja, tidak ditunjang oleh infrastruktur jalan yang memadai. “Saya ingin pemerintah membangun jalan akses ke kebun-kebun masyarakat agar hasil panen mereka cepat dipasarkan. Bukan seperti saat ini, panen mereka sulit dibawa keluar, karena jalan tak memadai,” ujarnya. Selain itu, hari kerja petani khususnya petani sawit lebih banyak santai. Mereka panen dua minggu sekali. Agar mereka produktif, instansi terkait harus membuat program agar tak ada hari yang terbuang sia-sia. Program yang dimaksud Simon adalah perikanan darat. “Petani sawit panenya dua minggu sekali. Berarti mereka kerja hanya sekali dalam dua minggu. Agar mereka produktif, pemerintah harus membuat program perikanan darat (tambak), biar hari luang mereka produktif dan perekonomian mereka meningkat,“ ujar Simon ***